Nama : William
NIM : 2007110177
Kelas : Marketing 11-2C
Mata Kuliah : Agama
Ortodoksi
Kata Ortodoksi berasal dari bahasa Yunani yaitu Orthos yang berarti benar dan Doxa yang berarti kemuliaan, penghormatan, ibadah, atau pendapat. Atau secara harafiah kita dapat mengatakan bahwa Ortodoksi adalah suatu konsep pemikiran yang benar mengenai Allah.
Ortopathi
Kata Ortopathi berasal dari kata Yunani yaitu Orthos yang berarti benar dan Pathos yang berarti afeksi, sikap, hati, keinginan. Dengan kata lain dapat kita ambil kesimpulan bahwa Ortopathi merupakan suatu sikap yang benar yang sesuai dengan keinginan Allah.
Ortopraksi
Kata Ortopraksi berasal dari bahasa Yunani, yaitu Orthos yang berarti benar dan Praxis yang berarti tindakan atau kerja. Maka definisi dari ortopraksi adalah suatu tindakan yang benar yang didasarkan pada kebenaran Allah.
Dari 3 teori tadi maka dapat disimpulkan bahwa antara ortodoksi, ortopathi, dan ortopraksi harus berjalan bersamaan, bertahap, dan saling berkaitan di dalam kehidupan kita sehari-hari. Mengapa demikian? Karena jika kita memiliki konsep pemahaman dan pemikiran yang benar, yang berpusatkan pada Allah (ortodoksi), maka kita pun akan memiliki sikap hati yang benar terhadap Allah (ortopathi), dan dengan memiliki ortodoksi dan ortopathi yang benar, secara tidak langsung semuanya ini akan ter-refleksi di dalam tindakan kita sehari-hari, dimana tindakan tersebut didasarkan pada kebenaran mengenai pemahaman akan Allah (ortopraksi).
Contoh berikut saya ambil dari kejadian dalam hidup saya. Ketika tanggal 10 April 2009 lalu, kita para umat Kristiani merayakan hari Jum’at Agung dimana pada hari tersebut biasanya setiap gereja merayakannya dengan suasana duka dan berpuasa. Waktu berpuasanya berbeda – beda, ada yang berpuasa setengah hari, ada juga yang berpuasa seperempat bahkan 1 harian. Waktu itu di gereja saya, kami diminta untuk berpuasa dari jam 6 pagi hingga 6 sore. Pada hari itu saya sangat bangga kepada Bapa, berkat-Nya lah saya dimampukan untuk melewati hari puasa tersebut dengan lancar, karena pada saat siang harinya saya diajak teman baik saya yang pada malam harinya akan kembali ke Irian, pergi ke Pluit Village, saat itu karena rasa tidak enak atas ajakannya, saya pun ikut dia berjalan-jalan ke mall. Di pertengahan jalan-jalan dia mengajak saya dan teman saya untuk makan di resto Kafe Betawi. Melihat ajakan teman saya itu, saya meminta maaf dan menolak teman saya, saya mengatakan bahwa saya tidak ikut makan karena sedang berpuasa, jadi saya hanya menemani dia berbincang, mendengar hal tersebut, teman saya dengan nada keras seperti marah mengatakan, “gak asik lu, ngapain si jadi Kristen fanatik banget, gua jadi ill fill ama Kristen”, menyikapi kata-katanya tersebut saya sempat bingung, saya berpikir apa lebih baik saya buka ya, daripada teman saya marah, namun saya berpikir siapakah dia sehingga bisa membuat saya lebih takut daripada Tuhanku, dengan senyum saya pun berkata, “sori, gua lagi puasa bro, gua pengen ngucap syukur aja ma God buat kebaikanNya”. Lalu dia berkata, “ill fill gua liat Kristen kalo kayak gitu, gua belakangan malah ada feel ke agama lain”. Ucapan-ucapan tersebut kembali membuat iman saya goyah, namun saya diingatkan mengenai pemikiran yang mendasari saya menjalani puasa ini, sehingga saya hanya senyum mendengar ucapan dia, tidak makan, dan tetap berpuasa hingga sore hari.
Setelah saya renungkan kejadian tersebut, saya kembali teringat pemikiran yang mendasari mengapa saya mengikuti puasa waktu itu, yaitu karena saya ingin bersyukur kepada Tuhan atas kasih dan kebaikanNya karena telah mati untuk menebus dosaku. Sehingga dari pemikiran tersebut saya dapat menjalani puasa dengan sikap tenang, serius, dan rasa takut akan Tuhan. Dari pemikiran dan sikap tersebut akhirnya tercermin kepada tindakan, yaitu puasa yang tetap saya lakukan.
Tampilkan postingan dengan label Religious Instruction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Religious Instruction. Tampilkan semua postingan
Senin, 12 Oktober 2009
Senin, 05 Oktober 2009
Tugas Religious Instruction (Hubungan antara Kristus dan kebudayaan)
Nama : William
NIM : 2007110177
Class : Marketing 11-2C (Group 1)
Pembimbing : Pak Daniel Zacharias
Religion Instruction
Relasi kekristenan dan kebudayaan adalah sebuah topik yang memunculkan perdebatan dari berbagai sisi hingga saat ini, dimana telah melibatkan tidak hanya teolog tetapi juga para sejarahwan, negarawan, dan sebagainya. Persoalan ini diduga muncul karena adanya sikap intoleran dari para pengikut Kekristenan yang mengklaim dirinya dalam posisi yang eksklusif. Richard Niebuhr seorang teolog Kristen mengatakan ada 5 tipologi hubungan antara Kristus dan kebudayaan, yaitu tipe antagonis (Christ against culture), tipe akomodatif (Christ of culture), tipe sintetik (Christ above culture), tipe dualis (Christ and culture in paradox), tipe tranformatif (Christ the transformer of culture).
1. Christ Against Culture
Pada dasarnya topik Kristus melawan kebudayaan menggambarkan suatu sikap yang radikal, yang benar-benar menolak segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia ini termasuk di dalamnya kebudayaan. Dalam sikap radikal ini, kekristenan menganggap dirinya sebagai suatu komunitas yang suci, sedangkan dunia dianggap sebagai sesuatu yang jahat, yang harus ditolak dan dihindari. Beberapa pemikiran yang dikutip untuk mendukung jenis hubungan ini berasal dari Surat I Yohanes, pemikiran Tertulianus, dan sebagainya. Contoh dari jenis hubungan ini adalah, perayaan Cheng Beng bagi kaum Tiong Hoa. Cheng Beng adalah suatu kebudayaan untuk membersihkan makam dan mendoakan leluhur, dimana tujuannya adalah agar kita tetap ingat dan tidak lupa terhadap jasa dan budi baik orang tua terhadap kita. Dalam kekristenan hal ini benar-benar dilarang karena dianggap menyembah arwah nenek moyang yang telah meninggal.
2. Christ of Culture
Ketika injil datang pada suatu kebudayaan maka disana ada orang-orang Kristen. Orang Kristen ini lalu terpisah (ber-oposisi) dengan kelompok radikal atau yang mengutamakan keberadaban (civilization). Tidak ada ketegangan yang berarti antara mereka dengan dunia, hukum masyarakat dengan injil, anugrah atau kemampuan manusia dan perbincangan antara etika keselamatan dengan etika sosial. Ini menggambarkan bagaimana mereka dapat memahami Kristus melalui kebudayaan. Pendekatan ini menunjukkan adanya sikap menerima kebudayaan tanpa menyaring mana hal positif yang perlu diterima dan hal negatif yang harus disingkirkan. Sikap ekstrim mengintepretasi Kristus ke dalam kebudayaan dan berusaha mengeliminasi ketegangan antara Kristus dengan dunia sosialnya (helenistik). Contohnya adalah budaya kawin cerai yang saat ini sedang marak di antara kita. Beberapa gereja Kristen sekarang ini mulai mau memberkati pernikahan dari artis-artis yang sudah bercerai, padahal menurut alkitab hal itu dilarang.
3. Christ Above Culture
Konsep ini hendak melengkapi konsep kedua namun justru menjadikan budaya itu aneh; Kristus seolah-olah hanya hidup dalam satu budaya tertentu yang mengatasi semua budaya. Di dalam pendekatan ini terdapat suatu denominasi dimana ada 1 budaya yang dirasakan benar-benar paling sesuai dengan ajaran Kristus sedangkan kebudayaan yang lain tidak. Contohnya adalah budaya barat yang membawa kekristenan masuk ke Indonesia, sehingga budaya Eropa dianggap sebagai budaya Kristen.
4. Christ and Culture in Paradox
Budaya hidup berada dalam dua dunia, Kristus punya budaya tersendiri dan dunia juga punya budaya tersendiri. Kedua budaya ini berjalan secara bersamaan, dimana kedua budaya ini tidak saling menganggu dan tidak saling meniadakan. Pandangan inilah yang kemudian diajarkan oleh kaum posmodern. Konsep ini menjadikan orang Kristen hidup dalam dua dunia. Ketika ia berada di dalam gereja maka ia harus langsung menyesuaikan diri dengan budaya yang dianggap sebagai budaya Kristen, ia harus berlaku sopan, jujur namun ketika berada di luar lingkungan gereja maka ia boleh liar dan berbuat sesuka hati layaknya dunia. Contoh nyatanya adalah seorang worship leader yang di gereja begitu rohaniawan, tapi ketika ia berada di rumah, ia memukul dan menyiksa orang tuanya.
5. Christ the Transformer of Culture
Kristus tidak merombak seluruh budaya yang ada. Kristus hanya mengubah dan membongkar budaya yang salah yang sifatnya esensial dan mutlak yang menyangkut standar dan prinsip, sehingga budaya tersebut tetap berjalan berdasarkan nilai-nilai yang diajarkan Kristus. Contohnya adalah Tuhan Yesus menegur keras budaya orang Yahudi yang begitu sombong, dimana mereka tidak mau dekat bahkan berbicara dengan orang Samaria. Contoh-contoh kebudayaan seperti inilah yang hendak dibongkar oleh Tuhan Yesus lalu ditransformasi.
NIM : 2007110177
Class : Marketing 11-2C (Group 1)
Pembimbing : Pak Daniel Zacharias
Religion Instruction
Relasi kekristenan dan kebudayaan adalah sebuah topik yang memunculkan perdebatan dari berbagai sisi hingga saat ini, dimana telah melibatkan tidak hanya teolog tetapi juga para sejarahwan, negarawan, dan sebagainya. Persoalan ini diduga muncul karena adanya sikap intoleran dari para pengikut Kekristenan yang mengklaim dirinya dalam posisi yang eksklusif. Richard Niebuhr seorang teolog Kristen mengatakan ada 5 tipologi hubungan antara Kristus dan kebudayaan, yaitu tipe antagonis (Christ against culture), tipe akomodatif (Christ of culture), tipe sintetik (Christ above culture), tipe dualis (Christ and culture in paradox), tipe tranformatif (Christ the transformer of culture).
1. Christ Against Culture
Pada dasarnya topik Kristus melawan kebudayaan menggambarkan suatu sikap yang radikal, yang benar-benar menolak segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia ini termasuk di dalamnya kebudayaan. Dalam sikap radikal ini, kekristenan menganggap dirinya sebagai suatu komunitas yang suci, sedangkan dunia dianggap sebagai sesuatu yang jahat, yang harus ditolak dan dihindari. Beberapa pemikiran yang dikutip untuk mendukung jenis hubungan ini berasal dari Surat I Yohanes, pemikiran Tertulianus, dan sebagainya. Contoh dari jenis hubungan ini adalah, perayaan Cheng Beng bagi kaum Tiong Hoa. Cheng Beng adalah suatu kebudayaan untuk membersihkan makam dan mendoakan leluhur, dimana tujuannya adalah agar kita tetap ingat dan tidak lupa terhadap jasa dan budi baik orang tua terhadap kita. Dalam kekristenan hal ini benar-benar dilarang karena dianggap menyembah arwah nenek moyang yang telah meninggal.
2. Christ of Culture
Ketika injil datang pada suatu kebudayaan maka disana ada orang-orang Kristen. Orang Kristen ini lalu terpisah (ber-oposisi) dengan kelompok radikal atau yang mengutamakan keberadaban (civilization). Tidak ada ketegangan yang berarti antara mereka dengan dunia, hukum masyarakat dengan injil, anugrah atau kemampuan manusia dan perbincangan antara etika keselamatan dengan etika sosial. Ini menggambarkan bagaimana mereka dapat memahami Kristus melalui kebudayaan. Pendekatan ini menunjukkan adanya sikap menerima kebudayaan tanpa menyaring mana hal positif yang perlu diterima dan hal negatif yang harus disingkirkan. Sikap ekstrim mengintepretasi Kristus ke dalam kebudayaan dan berusaha mengeliminasi ketegangan antara Kristus dengan dunia sosialnya (helenistik). Contohnya adalah budaya kawin cerai yang saat ini sedang marak di antara kita. Beberapa gereja Kristen sekarang ini mulai mau memberkati pernikahan dari artis-artis yang sudah bercerai, padahal menurut alkitab hal itu dilarang.
3. Christ Above Culture
Konsep ini hendak melengkapi konsep kedua namun justru menjadikan budaya itu aneh; Kristus seolah-olah hanya hidup dalam satu budaya tertentu yang mengatasi semua budaya. Di dalam pendekatan ini terdapat suatu denominasi dimana ada 1 budaya yang dirasakan benar-benar paling sesuai dengan ajaran Kristus sedangkan kebudayaan yang lain tidak. Contohnya adalah budaya barat yang membawa kekristenan masuk ke Indonesia, sehingga budaya Eropa dianggap sebagai budaya Kristen.
4. Christ and Culture in Paradox
Budaya hidup berada dalam dua dunia, Kristus punya budaya tersendiri dan dunia juga punya budaya tersendiri. Kedua budaya ini berjalan secara bersamaan, dimana kedua budaya ini tidak saling menganggu dan tidak saling meniadakan. Pandangan inilah yang kemudian diajarkan oleh kaum posmodern. Konsep ini menjadikan orang Kristen hidup dalam dua dunia. Ketika ia berada di dalam gereja maka ia harus langsung menyesuaikan diri dengan budaya yang dianggap sebagai budaya Kristen, ia harus berlaku sopan, jujur namun ketika berada di luar lingkungan gereja maka ia boleh liar dan berbuat sesuka hati layaknya dunia. Contoh nyatanya adalah seorang worship leader yang di gereja begitu rohaniawan, tapi ketika ia berada di rumah, ia memukul dan menyiksa orang tuanya.
5. Christ the Transformer of Culture
Kristus tidak merombak seluruh budaya yang ada. Kristus hanya mengubah dan membongkar budaya yang salah yang sifatnya esensial dan mutlak yang menyangkut standar dan prinsip, sehingga budaya tersebut tetap berjalan berdasarkan nilai-nilai yang diajarkan Kristus. Contohnya adalah Tuhan Yesus menegur keras budaya orang Yahudi yang begitu sombong, dimana mereka tidak mau dekat bahkan berbicara dengan orang Samaria. Contoh-contoh kebudayaan seperti inilah yang hendak dibongkar oleh Tuhan Yesus lalu ditransformasi.
Tugas Religion Instruction
Nama : William
NIM : 2007110177
Kelas : Marketing 11-2C
Mata Kuliah : Agama
Ortodoksi
Kata Ortodoksi berasal dari bahasa Yunani yaitu Orthos yang berarti benar dan Doxa yang berarti kemuliaan, penghormatan, ibadah, atau pendapat. Atau secara harafiah kita dapat mengatakan bahwa Ortodoksi adalah suatu konsep pemikiran yang benar mengenai Allah.
Ortopathi
Kata Ortopathi berasal dari kata Yunani yaitu Orthos yang berarti benar dan Pathos yang berarti afeksi, sikap, hati, keinginan. Dengan kata lain dapat kita ambil kesimpulan bahwa Ortopathi merupakan suatu sikap yang benar yang sesuai dengan keinginan Allah.
Ortopraksi
Kata Ortopraksi berasal dari bahasa Yunani, yaitu Orthos yang berarti benar dan Praxis yang berarti tindakan atau kerja. Maka definisi dari ortopraksi adalah suatu tindakan yang benar yang didasarkan pada kebenaran Allah.
Dari 3 teori tadi maka dapat disimpulkan bahwa antara ortodoksi, ortopathi, dan ortopraksi harus berjalan bersamaan, bertahap, dan saling berkaitan di dalam kehidupan kita sehari-hari. Mengapa demikian? Karena jika kita memiliki konsep pemahaman dan pemikiran yang benar, yang berpusatkan pada Allah (ortodoksi), maka kita pun akan memiliki sikap hati yang benar terhadap Allah (ortopathi), dan dengan memiliki ortodoksi dan ortopathi yang benar, secara tidak langsung semuanya ini akan ter-refleksi di dalam tindakan kita sehari-hari, dimana tindakan tersebut didasarkan pada kebenaran mengenai pemahaman akan Allah (ortopraksi).
Contoh berikut saya ambil dari kejadian dalam hidup saya. Ketika tanggal 10 April 2009 lalu, kita para umat Kristiani merayakan hari Jum’at Agung dimana pada hari tersebut biasanya setiap gereja merayakannya dengan suasana duka dan berpuasa. Waktu berpuasanya berbeda – beda, ada yang berpuasa setengah hari, ada juga yang berpuasa seperempat bahkan 1 harian. Waktu itu di gereja saya, kami diminta untuk berpuasa dari jam 6 pagi hingga 6 sore. Pada hari itu saya sangat bangga kepada Bapa, berkat-Nya lah saya dimampukan untuk melewati hari puasa tersebut dengan lancar, karena pada saat siang harinya saya diajak teman baik saya yang pada malam harinya akan kembali ke Irian, pergi ke Pluit Village, saat itu karena rasa tidak enak atas ajakannya, saya pun ikut dia berjalan-jalan ke mall. Di pertengahan jalan-jalan dia mengajak saya dan teman saya untuk makan di resto Kafe Betawi. Melihat ajakan teman saya itu, saya meminta maaf dan menolak teman saya, saya mengatakan bahwa saya tidak ikut makan karena sedang berpuasa, jadi saya hanya menemani dia berbincang, mendengar hal tersebut, teman saya dengan nada keras seperti marah mengatakan, “gak asik lu, ngapain si jadi Kristen fanatik banget, gua jadi ill fill ama Kristen”, menyikapi kata-katanya tersebut saya sempat bingung, saya berpikir apa lebih baik saya buka ya, daripada teman saya marah, namun saya berpikir siapakah dia sehingga bisa membuat saya lebih takut daripada Tuhanku, dengan senyum saya pun berkata, “sori, gua lagi puasa bro, gua pengen ngucap syukur aja ma God buat kebaikanNya”. Lalu dia berkata, “ill fill gua liat Kristen kalo kayak gitu, gua belakangan malah ada feel ke agama lain”. Ucapan-ucapan tersebut kembali membuat iman saya goyah, namun saya diingatkan mengenai pemikiran yang mendasari saya menjalani puasa ini, sehingga saya hanya senyum mendengar ucapan dia, tidak makan, dan tetap berpuasa hingga sore hari.
Setelah saya renungkan kejadian tersebut, saya kembali teringat pemikiran yang mendasari mengapa saya mengikuti puasa waktu itu, yaitu karena saya ingin bersyukur kepada Tuhan atas kasih dan kebaikanNya karena telah mati untuk menebus dosaku. Sehingga dari pemikiran tersebut saya dapat menjalani puasa dengan sikap tenang, serius, dan rasa takut akan Tuhan. Dari pemikiran dan sikap tersebut akhirnya tercermin kepada tindakan, yaitu puasa yang tetap saya lakukan.
NIM : 2007110177
Kelas : Marketing 11-2C
Mata Kuliah : Agama
Ortodoksi
Kata Ortodoksi berasal dari bahasa Yunani yaitu Orthos yang berarti benar dan Doxa yang berarti kemuliaan, penghormatan, ibadah, atau pendapat. Atau secara harafiah kita dapat mengatakan bahwa Ortodoksi adalah suatu konsep pemikiran yang benar mengenai Allah.
Ortopathi
Kata Ortopathi berasal dari kata Yunani yaitu Orthos yang berarti benar dan Pathos yang berarti afeksi, sikap, hati, keinginan. Dengan kata lain dapat kita ambil kesimpulan bahwa Ortopathi merupakan suatu sikap yang benar yang sesuai dengan keinginan Allah.
Ortopraksi
Kata Ortopraksi berasal dari bahasa Yunani, yaitu Orthos yang berarti benar dan Praxis yang berarti tindakan atau kerja. Maka definisi dari ortopraksi adalah suatu tindakan yang benar yang didasarkan pada kebenaran Allah.
Dari 3 teori tadi maka dapat disimpulkan bahwa antara ortodoksi, ortopathi, dan ortopraksi harus berjalan bersamaan, bertahap, dan saling berkaitan di dalam kehidupan kita sehari-hari. Mengapa demikian? Karena jika kita memiliki konsep pemahaman dan pemikiran yang benar, yang berpusatkan pada Allah (ortodoksi), maka kita pun akan memiliki sikap hati yang benar terhadap Allah (ortopathi), dan dengan memiliki ortodoksi dan ortopathi yang benar, secara tidak langsung semuanya ini akan ter-refleksi di dalam tindakan kita sehari-hari, dimana tindakan tersebut didasarkan pada kebenaran mengenai pemahaman akan Allah (ortopraksi).
Contoh berikut saya ambil dari kejadian dalam hidup saya. Ketika tanggal 10 April 2009 lalu, kita para umat Kristiani merayakan hari Jum’at Agung dimana pada hari tersebut biasanya setiap gereja merayakannya dengan suasana duka dan berpuasa. Waktu berpuasanya berbeda – beda, ada yang berpuasa setengah hari, ada juga yang berpuasa seperempat bahkan 1 harian. Waktu itu di gereja saya, kami diminta untuk berpuasa dari jam 6 pagi hingga 6 sore. Pada hari itu saya sangat bangga kepada Bapa, berkat-Nya lah saya dimampukan untuk melewati hari puasa tersebut dengan lancar, karena pada saat siang harinya saya diajak teman baik saya yang pada malam harinya akan kembali ke Irian, pergi ke Pluit Village, saat itu karena rasa tidak enak atas ajakannya, saya pun ikut dia berjalan-jalan ke mall. Di pertengahan jalan-jalan dia mengajak saya dan teman saya untuk makan di resto Kafe Betawi. Melihat ajakan teman saya itu, saya meminta maaf dan menolak teman saya, saya mengatakan bahwa saya tidak ikut makan karena sedang berpuasa, jadi saya hanya menemani dia berbincang, mendengar hal tersebut, teman saya dengan nada keras seperti marah mengatakan, “gak asik lu, ngapain si jadi Kristen fanatik banget, gua jadi ill fill ama Kristen”, menyikapi kata-katanya tersebut saya sempat bingung, saya berpikir apa lebih baik saya buka ya, daripada teman saya marah, namun saya berpikir siapakah dia sehingga bisa membuat saya lebih takut daripada Tuhanku, dengan senyum saya pun berkata, “sori, gua lagi puasa bro, gua pengen ngucap syukur aja ma God buat kebaikanNya”. Lalu dia berkata, “ill fill gua liat Kristen kalo kayak gitu, gua belakangan malah ada feel ke agama lain”. Ucapan-ucapan tersebut kembali membuat iman saya goyah, namun saya diingatkan mengenai pemikiran yang mendasari saya menjalani puasa ini, sehingga saya hanya senyum mendengar ucapan dia, tidak makan, dan tetap berpuasa hingga sore hari.
Setelah saya renungkan kejadian tersebut, saya kembali teringat pemikiran yang mendasari mengapa saya mengikuti puasa waktu itu, yaitu karena saya ingin bersyukur kepada Tuhan atas kasih dan kebaikanNya karena telah mati untuk menebus dosaku. Sehingga dari pemikiran tersebut saya dapat menjalani puasa dengan sikap tenang, serius, dan rasa takut akan Tuhan. Dari pemikiran dan sikap tersebut akhirnya tercermin kepada tindakan, yaitu puasa yang tetap saya lakukan.
Langganan:
Postingan (Atom)
