Senin, 05 Oktober 2009

Tugas Religious Instruction (Hubungan antara Kristus dan kebudayaan)

Nama : William
NIM : 2007110177
Class : Marketing 11-2C (Group 1)
Pembimbing : Pak Daniel Zacharias
Religion Instruction

Relasi kekristenan dan kebudayaan adalah sebuah topik yang memunculkan perdebatan dari berbagai sisi hingga saat ini, dimana telah melibatkan tidak hanya teolog tetapi juga para sejarahwan, negarawan, dan sebagainya. Persoalan ini diduga muncul karena adanya sikap intoleran dari para pengikut Kekristenan yang mengklaim dirinya dalam posisi yang eksklusif. Richard Niebuhr seorang teolog Kristen mengatakan ada 5 tipologi hubungan antara Kristus dan kebudayaan, yaitu tipe antagonis (Christ against culture), tipe akomodatif (Christ of culture), tipe sintetik (Christ above culture), tipe dualis (Christ and culture in paradox), tipe tranformatif (Christ the transformer of culture).
1. Christ Against Culture
Pada dasarnya topik Kristus melawan kebudayaan menggambarkan suatu sikap yang radikal, yang benar-benar menolak segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia ini termasuk di dalamnya kebudayaan. Dalam sikap radikal ini, kekristenan menganggap dirinya sebagai suatu komunitas yang suci, sedangkan dunia dianggap sebagai sesuatu yang jahat, yang harus ditolak dan dihindari. Beberapa pemikiran yang dikutip untuk mendukung jenis hubungan ini berasal dari Surat I Yohanes, pemikiran Tertulianus, dan sebagainya. Contoh dari jenis hubungan ini adalah, perayaan Cheng Beng bagi kaum Tiong Hoa. Cheng Beng adalah suatu kebudayaan untuk membersihkan makam dan mendoakan leluhur, dimana tujuannya adalah agar kita tetap ingat dan tidak lupa terhadap jasa dan budi baik orang tua terhadap kita. Dalam kekristenan hal ini benar-benar dilarang karena dianggap menyembah arwah nenek moyang yang telah meninggal.
2. Christ of Culture
Ketika injil datang pada suatu kebudayaan maka disana ada orang-orang Kristen. Orang Kristen ini lalu terpisah (ber-oposisi) dengan kelompok radikal atau yang mengutamakan keberadaban (civilization). Tidak ada ketegangan yang berarti antara mereka dengan dunia, hukum masyarakat dengan injil, anugrah atau kemampuan manusia dan perbincangan antara etika keselamatan dengan etika sosial. Ini menggambarkan bagaimana mereka dapat memahami Kristus melalui kebudayaan. Pendekatan ini menunjukkan adanya sikap menerima kebudayaan tanpa menyaring mana hal positif yang perlu diterima dan hal negatif yang harus disingkirkan. Sikap ekstrim mengintepretasi Kristus ke dalam kebudayaan dan berusaha mengeliminasi ketegangan antara Kristus dengan dunia sosialnya (helenistik). Contohnya adalah budaya kawin cerai yang saat ini sedang marak di antara kita. Beberapa gereja Kristen sekarang ini mulai mau memberkati pernikahan dari artis-artis yang sudah bercerai, padahal menurut alkitab hal itu dilarang.
3. Christ Above Culture
Konsep ini hendak melengkapi konsep kedua namun justru menjadikan budaya itu aneh; Kristus seolah-olah hanya hidup dalam satu budaya tertentu yang mengatasi semua budaya. Di dalam pendekatan ini terdapat suatu denominasi dimana ada 1 budaya yang dirasakan benar-benar paling sesuai dengan ajaran Kristus sedangkan kebudayaan yang lain tidak. Contohnya adalah budaya barat yang membawa kekristenan masuk ke Indonesia, sehingga budaya Eropa dianggap sebagai budaya Kristen.
4. Christ and Culture in Paradox
Budaya hidup berada dalam dua dunia, Kristus punya budaya tersendiri dan dunia juga punya budaya tersendiri. Kedua budaya ini berjalan secara bersamaan, dimana kedua budaya ini tidak saling menganggu dan tidak saling meniadakan. Pandangan inilah yang kemudian diajarkan oleh kaum posmodern. Konsep ini menjadikan orang Kristen hidup dalam dua dunia. Ketika ia berada di dalam gereja maka ia harus langsung menyesuaikan diri dengan budaya yang dianggap sebagai budaya Kristen, ia harus berlaku sopan, jujur namun ketika berada di luar lingkungan gereja maka ia boleh liar dan berbuat sesuka hati layaknya dunia. Contoh nyatanya adalah seorang worship leader yang di gereja begitu rohaniawan, tapi ketika ia berada di rumah, ia memukul dan menyiksa orang tuanya.
5. Christ the Transformer of Culture
Kristus tidak merombak seluruh budaya yang ada. Kristus hanya mengubah dan membongkar budaya yang salah yang sifatnya esensial dan mutlak yang menyangkut standar dan prinsip, sehingga budaya tersebut tetap berjalan berdasarkan nilai-nilai yang diajarkan Kristus. Contohnya adalah Tuhan Yesus menegur keras budaya orang Yahudi yang begitu sombong, dimana mereka tidak mau dekat bahkan berbicara dengan orang Samaria. Contoh-contoh kebudayaan seperti inilah yang hendak dibongkar oleh Tuhan Yesus lalu ditransformasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar