Senin, 05 Oktober 2009

Indonesian Economic System

Indonesian Economic System

Dampak Krisis Global Terhadap Sektor Ekspor dan Impor

Nama : William
NIM : 2007110177
Kelas : Marketing XI-2C


Pembimbing : Bapak Muzani Mansoer



Tahun 2009
I. Introduction/ Background
Sejarah krisis global yang terjadi saat ini sebenarnya diawali dari macetnya kredit perumahan di Amerika karena ternyata para pemilik rumah memang tak mampu membayar cicilan kredit. Kemacetan kredit itu merembet kemana-mana, terutama menimbulkan krisis keuangan di Amerika, dan kemudian berdampak ke berbagai belahan dunia.
Di Amerika, krisis ini menyebabkan harga rumah turun sampai 16%, selain itu angka pengangguran meningkat bersama meningkatnya angka pemutusan hubungan kerja (PHK) oleh perusahaan-perusahaan yang terguncang krisis ,dan menyebabkan penjualan rumah macet.
Tidak cukup sampai disitu, berbagai lembaga keuangan raksasa pun terpaksa harus menutup badan usahanya, yang dimana umumnya adalah perusahaan yang terlibat dalam pemberian kredit, penjaminan kredit, dan asuranci kredit perumahan Subprime Mortgage.
Ketika Maret 2008, The Fed membantu Bear Stearns, bank investasi di Wall Street, 29 Milyar Dollar, untuk kemudian dikawinkan dengan JP Morgan, banyak pengamat yang meramalkan krisis telah berakhir. Alasannya, meski rendah, toh buktinya ekonomi Amerika terus tumbuh.
Sampai 6 bulan kemudian, September 2008, Fanny Mae dan Freddie Mac tersungkur dan harus disuntik 200 milyar Dollar. Lalu disusul bankrutnya Lehman Brothers dan sejumlah raksasa lainnya. Oleh karena itu tampaknya sekarang tak ada ahli yang berani meramalkan sampai kapan krisis ini berakhir.
Saat ini, Indonesia sudah mulai merasakan imbas krisis di Amerika dengan jatuhnya indeks di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Apalagi, siapa pun tahu bahwa para pemain di BEJ didominasi oleh investor asing. Kalau mereka menarik investasi jangka pendek itu karena suatu keperluan di negerinya yang sedang dilanda krisis, BEJ bisa jadi pasar loak. Tapi yang pasti, system kapitalisme yang dianut SBY – Kalla, cuma menguntungkan segelintir kaum pemodal besar. Kekayaan mereka melonjak berlipat ganda, sementara mayoritas rakyat bertambah miskin. Hal ini terbukti selama ini dan terjadi dimana saja kapitalisme dipraktekkan, termasuk di Amerika Serikat.

II. Problems
Setelah sempat mengguncang pasar modal dan valas Indonesia, agaknya krisis keuangan global kini mulai berdampak pada sektor perdagangan luar negeri Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan data yang ada di Badan Pusat Statistik (BPS) pada awal Maret 2009 yang menunjukkan adanya penurunan ekspor dan impor.
• Nilai ekspor Indonesia Januari 2009 mencapai USD 7,15 miliar, turun 17,70 persen dibanding Desember 2008. Sementara jika dibanding Januari 2008 juga mengalami penurunan sebesar 36,08 persen. Nilai ekspor nonmigas pada Januari 2009 mencapai USD 6,21 miliar, turun 16,67 persen dibandingkan dengan Desember 2008, atau turun 30,64 persen dibandingkan dengan Januari 2008.
• Menurut sektor, ekspor hasil pertanian periode Januari 2009 turun 8,24 persen, ekspor hasil industri turun 35,52 persen, ekspor tambang dan lainnya juga turun 1,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2008.
• Nilai impor Indonesia Januari 2009 mencapai USD 6,34 miliar, turun 17,63 persen dibanding Desember 2008. Jika dibandingkan dengan Januari 2008, nilainya turun sebesar USD 3,27 miliar (33,99 persen).

FAKTOR PENYEBAB
Ada beberapa faktor yang menyebabkan turunnya nilai ekspor pada Januari 2009. Pertama, nilai ekspor migas Indonesia turun 23,85 persen. Nilai ekspor migas pada Desember 2008 mencapai USD 1,243 miliar, sedangkan pada Januari 2009 hanya USD 947,1 juta. Turunnya ekspor migas Indonesia dipicu oleh penurunan ekspor minyak mentah sebesar 18,05 persen, ekspor hasil minyak turun sebesar 26,31 persen, dan ekspor gas turun sebesar 27,32 persen.
Data perdagangan juga menunjukkan bahwa harga minyak mentah Indonesia di pasar dunia naik dari USD 38,45 per barel pada Desember 2008 menjadi USD 41,89 per barel pada Januari 2009. Dengan kata lain, menurunnya nilai ekspor minyak dan hasil minyak, lebih disebabkan menurunnya produksi, bukan karena faktor harga.
Faktor kedua, adalah anjloknya nilai ekspor nonmigas Indonesia sebesar 16,67 persen. Nilai ekspor nonmigas Indonesia pada Desember 2008 sebesar USD 7,448 miliar merosot menjadi USD 6,206 miliar pada Januari 2009. Jika dilihat dari jenis komoditi, proporsi terbesar penurunan ini disumbangkan oleh kelompok barang bahan bakar mineral, yaitu 15,45 persen. Selanjutnya diikuti oleh mesin/peralatan listrik sebesar 13,58 persen, mesin-mesin/pesawat mekanik sebesar 7,09 persen, karet dan barang dari karet sebesar 6,14 persen, serta lemak dan minyak hewan/nabati sebesar 5,52 persen.Namun berdasarkan kondisi perdagangan yang terjadi selama Januari 2009, perdagangan luar negeri Indonesia masih surplus sebesar USD 810 juta.
Melemahnya kinerja perdagangan luar negeri Indonesia dapat dilihat dari berbagai indikator. Dilihat dari negara tujuan ekspor, penurunan terbesar permintaan barang ekspor nonmigas Indonesia berasal dari penurunan permintaan dari Jepang sebesar 17,66 persen. Diikuti penurunan permintaan dari Taiwan sebesar 11 persen, Amerika Serikat (AS) 10,85 persen, Singapura 9 persen, dan Korea Selatan 8,86 persen (BPS 2009).
Data Ekspor Impor Indonesia yang dipublikasikan Departemen Perdagangan juga menunjukkan penurunan pada akhir tahun 2008. Misalnya, total ekspor Indonesia turun dari USD 12.818,40 juta pada Juni 2008 menjadi USD 10.789,90 pada Oktober dan turun lagi menjadi USD 9.665,70 pada November 2008. Demikian juga dengan total impor yang turun dari USD 12.110,50 pada Juni 2008 menjadi USD 10.732,50 pada Oktober dan turun lagi menjadi 9.081,40 pada November 2008.
Data yang dipublikasikan oleh Departemen Keuangan juga menunjukkan hal yang sama. Menteri Keuangan, Sri Mulyani, mengatakan bahwa selama kurun waktu Januari sampai September 2008, angka ekspor dan impor relatif stabil di angka USD 11,5 miliar dan impor di angka USD 9,5 miliar. Mulai Oktober, dampak krisis global mulai terasa dampaknya pada ekspor dan impor. Pada Januari 2009, penurunan ekspor nonmigas ke Jepang turun sebesar USD 219,3 juta, Taiwan sebesar USD 137,6 juta, Amerika Serikat sebesar USD 134,7 juta, Singapura sebesar USD 112,2 juta, Korea Selatan sebesar 110,0 juta, Malaysia sebesar 74,4 juta, Thailand sebesar USD 19,4 juta, dan Australia sebesar USD 16,7 juta .
Penurunan perdagangan luar negeri Indonesia erat kaitannya dengan krisis ekonomi yang melanda negara-negara tujuan ekspor Indonesia. Misalnya penurunan kinerja ekonomi secara signifikat dialami Amerika Serikat, Eropa, Jepang dan Asia Timur lainnya pada kuartal I - 2009. Di Amerika Serikat, Industrial production turun dari sekitar 77 persen pada tahun 2008 menjadi sekitar 70 persen pada kuartal I-2009, dan capacity utilization turun dari sekitar 80 persen pada tahun 2008 menjadi sekitar 70 persen pada kuartal I-2009. Di Jepang, Industrial production turun dari sekitar 95 persen pada tahun 2008 menjadi sekitar 67 persen pada kuartal I-2009, dan capacity utilization turun dari sekitar 105 persen pada tahun 2008 menjadi sekitar 65 persen pada kuartal I-2009. Pertumbuhan ekspor negara-negara Asia turun dari 20 sampai 40 persen (yoy) pada semester I - 2008 menjadi minus 14 sampai minus 40 persen (yoy) pada awal 2009. Demikian juga halnya dengan pertumbuhan ekonomi negara-negara Asia di penghujung tahun 2008 yang semuanya menurun, bahkan beberapa negara mengalami pertumbuhan ekonomi yang minus seperti Jepang, Singapore, Malaysia dan Thailand.
Menghadapi krisis tersebut, hampir seluruh Pemerintah negara di dunia, termasuk Pemerintah Indonesia, sudah mengumumkan paket-paket stimulus ratusan miliar dolar AS untuk menggerakkan perekonomian negaranya masing-masing. Bank-bank sentral juga sudah menurunkan suku bunga acuan untuk mempermudah likuiditas bagi dunia usaha. Namun pengamat ekonomi mengingatkan bahwa stimulus mungkin bisa membantu meminimalkan dampak krisis keuangan, tapi tak berarti persoalan selesai. Masih dibutuhkan langkah-langkah selanjutnya untuk mengatasi permasalahan tersebut. Sampai saat ini, langkah-langkah yang sudah diambil Pemerintah di berbagai negara ternyata belum menunjukkan hasil yang signifikan.
Sehubungan dengan terjadinya krisis global dan turunnya kinerja perdagangan luar negeri Indonesia, Presiden SBY menegaskan bawah ekspor tetap perlu tetapi penguatan ekonomi domestik sangatlah penting terutama sebagai pengamanan di dalam negeri jika terjadi gejolak perekonomian global. Dengan kata lain, penguatan ekonomi domestik perlu dilakukan supaya perekonomian lokal tidak terlalu rentan dalam mengatasi krisis perekonomian global, seperti yang sekarang sedang dialami yaitu krisis keuangan global. Jadi intinya adalah ketika dunia mengalami krisis dan ada gonjang-ganjing, kita masih bisa hidup dengan kekuatan ekonomi domestik kita sendiri.
Selanjutnya, untuk merespon buruknya kinerja ekspor Indonesia, pemerintah melalui Departemen Perdagangan telah mengeluarkan aturan penyempurnaan mengenai ketentuan ekspor barang yang wajib mengunakan Letter of Credit (L/C). Langkah ini dilakukan pemerintah guna meringankan kesulitan yang dihadapi eksportir kecil dan menengah dalam memenuhi persyaratan L/C.
Ada tiga penyempurnaan yang dilakukan. Pertama, penerapan wajib L/C hanya untuk produk pertambangan, timah, dan CPO. Wajib L/C untuk tiga hal itu dikenakan kepada ekspor di atas USD 1 juta mulai 1 April 2009, yaitu kepada eksportir skala besar.
Kedua, mengingat nilai ekspor sejumlah komoditi, seperti karet, kakao dan kopi, terus menurun, maka instansi terkait melakukan evaluasi dan persiapan langkah-langkah untuk penerapan wajib L/C dengan penangguhan kewajiban dimaksud sampai 31 Agustus 2009.
Ketiga, agar tujuan utama dari pengaturan ini tetap tercapai, yaitu kelancaran arus devisa dari ekspor, maka wajib lapor tetap akan diterapkan untuk semua komoditi yang diatur.
Kamar Dagang Indonesia (Kadin) juga telah menyiapkan dua langkah antisipasi terhadap lesunya pasar ekspor 2009 sebagai dampak krisis global. Langkah pertama adalah memperkuat produk domestik, dan memperketat impor barang konsumsi. Sedangkan langkah kedua, dengan mencari pasar baru.
Selain langkah-langkah yang sudah diambil oleh pemerintah, ada juga dua strategi yang dapat diterapkan guna mengatasi turunnya kinerja ekspor Indonesia. Dua strategi tersebut adalah, pertama, mengembangkan sektor manufaktur yang memiliki daya saing tinggi. Kedua, restrukturisasi industri secara terencana menuju industri yang produktivitas dan nilai tambahnya tinggi.

III. Description Data
Berikut saya lampirkan beberapa grafik mengenai penurunan ekspor impor Indonesia,

Grafik 1

Dari gambar diatas kita dapat melihat bahwa Indonesia mengalami penurunan ekspor dari periode 2007 ke periode Juli 2008, dan dimana justru sebaliknya mengalami puncak peningkatan impor di bulan Juli 2008 semenjak tahun 2003. Hal inilah yang nantinya akan diperbaiki pemerintah sehingga Indonesia di era krisis global ini tidak semakin mengalami ketergantungan impor dari negara lain.













Grafik 2:


Lalu untuk grafik ini, kita dapat melihat secara keseluruhan, bahwa perkembangan ekspor (baik migas maupun non migas) di Indonesia ke Negara-negara di dunia kian mengalami penurunan. Namun penurunan ekspor yang dialami tidaklah signifikan.













IV. Conclusion
Resesi global yang berdampak pada Indonesia diperkirakan akan memberikan dampak berupa perlambatan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2008 dan 2009. Dimana dampak ini akan dirasakan oleh hampir semua sector ekonomi, terutama sector ekonomi yang berorientasi ekspor dan menggunakan bahan baku impor relatif banyak, seperti industri mesin, karet, dan sejumlah komoditas lainnya.
Namun rakyat tidak perlu khawatir karena Kamar Dagang Indonesia (Kadin) telah menyiapkan dua langkah antisipasi terhadap lesunya pasar ekspor 2009 sebagai dampak krisis global. Langkah pertama adalah memperkuat produk domestik, dan memperketat impor barang konsumsi. Sedangkan langkah kedua, dengan mencari pasar baru.
Selain itu pemerintah pun telah menerapkan beberapa langkah untuk memperkuat kembali pasar ekspor Indonesia sehingga diharapkan dapat menjadikan Indonesia sebagai Negara yang mandiri dan kokoh.


















V. Reference
• www.dedidude.multiply.com/journal/item/80
• http://www.setneg.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=3578&Itemid=29
• www.jurnalekonomi.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar