Senin, 12 Oktober 2009

Tugas Religion Instruction

Nama : William
NIM : 2007110177
Kelas : Marketing 11-2C
Mata Kuliah : Agama

Ortodoksi
Kata Ortodoksi berasal dari bahasa Yunani yaitu Orthos yang berarti benar dan Doxa yang berarti kemuliaan, penghormatan, ibadah, atau pendapat. Atau secara harafiah kita dapat mengatakan bahwa Ortodoksi adalah suatu konsep pemikiran yang benar mengenai Allah.

Ortopathi
Kata Ortopathi berasal dari kata Yunani yaitu Orthos yang berarti benar dan Pathos yang berarti afeksi, sikap, hati, keinginan. Dengan kata lain dapat kita ambil kesimpulan bahwa Ortopathi merupakan suatu sikap yang benar yang sesuai dengan keinginan Allah.

Ortopraksi
Kata Ortopraksi berasal dari bahasa Yunani, yaitu Orthos yang berarti benar dan Praxis yang berarti tindakan atau kerja. Maka definisi dari ortopraksi adalah suatu tindakan yang benar yang didasarkan pada kebenaran Allah.

Dari 3 teori tadi maka dapat disimpulkan bahwa antara ortodoksi, ortopathi, dan ortopraksi harus berjalan bersamaan, bertahap, dan saling berkaitan di dalam kehidupan kita sehari-hari. Mengapa demikian? Karena jika kita memiliki konsep pemahaman dan pemikiran yang benar, yang berpusatkan pada Allah (ortodoksi), maka kita pun akan memiliki sikap hati yang benar terhadap Allah (ortopathi), dan dengan memiliki ortodoksi dan ortopathi yang benar, secara tidak langsung semuanya ini akan ter-refleksi di dalam tindakan kita sehari-hari, dimana tindakan tersebut didasarkan pada kebenaran mengenai pemahaman akan Allah (ortopraksi).

Contoh berikut saya ambil dari kejadian dalam hidup saya. Ketika tanggal 10 April 2009 lalu, kita para umat Kristiani merayakan hari Jum’at Agung dimana pada hari tersebut biasanya setiap gereja merayakannya dengan suasana duka dan berpuasa. Waktu berpuasanya berbeda – beda, ada yang berpuasa setengah hari, ada juga yang berpuasa seperempat bahkan 1 harian. Waktu itu di gereja saya, kami diminta untuk berpuasa dari jam 6 pagi hingga 6 sore. Pada hari itu saya sangat bangga kepada Bapa, berkat-Nya lah saya dimampukan untuk melewati hari puasa tersebut dengan lancar, karena pada saat siang harinya saya diajak teman baik saya yang pada malam harinya akan kembali ke Irian, pergi ke Pluit Village, saat itu karena rasa tidak enak atas ajakannya, saya pun ikut dia berjalan-jalan ke mall. Di pertengahan jalan-jalan dia mengajak saya dan teman saya untuk makan di resto Kafe Betawi. Melihat ajakan teman saya itu, saya meminta maaf dan menolak teman saya, saya mengatakan bahwa saya tidak ikut makan karena sedang berpuasa, jadi saya hanya menemani dia berbincang, mendengar hal tersebut, teman saya dengan nada keras seperti marah mengatakan, “gak asik lu, ngapain si jadi Kristen fanatik banget, gua jadi ill fill ama Kristen”, menyikapi kata-katanya tersebut saya sempat bingung, saya berpikir apa lebih baik saya buka ya, daripada teman saya marah, namun saya berpikir siapakah dia sehingga bisa membuat saya lebih takut daripada Tuhanku, dengan senyum saya pun berkata, “sori, gua lagi puasa bro, gua pengen ngucap syukur aja ma God buat kebaikanNya”. Lalu dia berkata, “ill fill gua liat Kristen kalo kayak gitu, gua belakangan malah ada feel ke agama lain”. Ucapan-ucapan tersebut kembali membuat iman saya goyah, namun saya diingatkan mengenai pemikiran yang mendasari saya menjalani puasa ini, sehingga saya hanya senyum mendengar ucapan dia, tidak makan, dan tetap berpuasa hingga sore hari.
Setelah saya renungkan kejadian tersebut, saya kembali teringat pemikiran yang mendasari mengapa saya mengikuti puasa waktu itu, yaitu karena saya ingin bersyukur kepada Tuhan atas kasih dan kebaikanNya karena telah mati untuk menebus dosaku. Sehingga dari pemikiran tersebut saya dapat menjalani puasa dengan sikap tenang, serius, dan rasa takut akan Tuhan. Dari pemikiran dan sikap tersebut akhirnya tercermin kepada tindakan, yaitu puasa yang tetap saya lakukan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar