Senin, 05 Oktober 2009

Analisis Kelayakan Pembukaan Cabang Supermarket

Management Strategies
Analisa Pembukaan Cabang Baru Supermarket
Nama Anggota:
Angelica (2007110)
Desia Yunita (2007110)
Ratna Dewi (2007110)
Stefani Rahardja (2007110)
William (2007110177)

Kelas : Marketing XI-2C

Tahun 2009
Company Profile
Giant Hypermarket adalah supermarket dengan konsep franchise (waralaba) yang terdapat di negara Malaysia, Singapur, Brunei Darussalam, UAE dan Indonesia. Perusahaan Giant adalah perusahaan yang dikelola di bawah perusahaan Dairy Farm International Holdings (DFI).
Awalnya perusahaan Giant sendiri didirikan oleh keluarga Teng sebagai suatu toko sederhana yang menjual kebutuhan sehari-hari di pinggiran kota Kuala Lumpur pada tahun 1944. Tujuannya adalah menawarkan beragam produk makanan dengan harga yang se-ekonomis mungkin. Pada akhirnya berkembanglah bisnis Giant tersebut sehingga tercipta reputasi yang baik di mata masyarakat.
Dairy Farm, yang pada akhirnya mengambil alih kepemilikan usaha Giant pada tahun 1999, menemukan bahwa kunci sukses dari berkembangnya bisnis Giant tersebut yaitu keahliannya dalam menambahkan suatu nilai ke dalam produk yang dibeli oleh konsumennya secara berkesinambungan. Keahliannya dalam mengelola prinsip-prinsip utama tersebut pada akhirnya mengubah Giant menjadi merek nasional dan internasional.
Setelah perjuangannya selama 6 tahun, seperti mendesain ulang tokonya, memperkenalkan produk-produk yang bukan makanan di Giant Hypermarket, mengimplementasikan aturan-aturan standar yang berlaku secara internasional seperti keamanan, kebersihan, pelatihan secara terstruktur, dan suasana pembelanjaan yang menarik dan nyaman sebagai tempat tempat pembelanjaan utama dan meningkatkan efektivitas proses dalam bisnis. Dairy Farm telah menjadikan Giant sebagai pemimpin pasar (market leader) di sektor retail Malaysia.
Pada tahun 1999, Giant Hypermarket store untuk pertama kalinya dibuka di Shah Alam, Selangor. Pada tahun 2006, perusahaan tersebut mengalami perkembangan yang sangat signifikan dimana perusahaan tersebut telah membuka 86 hypermarket/ supermarket di Malaysia dengan luas outlet yang bervariasi, seperti hypermarket yang terdapat di Shah Alam dengan luas sekitar 350.000m2 hingga supermarket di Bangsar, Kuala Lumpur yaitu dengan luas area 11.000 m2. Selain di Malaysia, Giant juga membuka 6 store di Singapur dan 17 hypermarket di Indonesia. Giant hypermarket menawarkan berbagai pilihan produk lokal, seperti buah segar hasil produksi lokal, sayuran, dan aneka makanan laut yang terdapat di kawasan “wet market”.




















Pembahasan Masalah
Berikut akan kami lampirkan sebuah artikel yang kami dapat dari “www.mediakonsumen.com” dan akan menjadi bahan pembahasan kami mengenai analisis pembukaan cabang baru supermarket Giant di Setos (Serpong Town Square).
Feb 8
Re-Opening Giant Hypermarket Serpong Town Square?
Filed Under Analysis, Giant
Persaingan yang ketat di industri retail (Mass Merchant, Retail Property), mulai membawa korban terutama di Jakarta. Tidak sedikit pemain yang menyingkir dari Jakarta, atau lempar handuk putih sekalian alias menyerah. Bagaimana dengan Serpong Town Square? udah beberapa minggu ini, jika anda sering melintas Jalan Tol Jakarta-Tangerang, anda akan melihat sign board Giant Hypermarket yang menyala lagi di Serpong Town Square.
Apakah ini pertanda Giant Hypermarket akan buka lagi di Setos?
Serpong Town Square atau yang lebih dikenal dengan Setos, sekarang ini mengalami hal yang menyedihkan. Di awal pembukaannya, Setos mempunyai Anchor Tenant seperti Giant Hypermarket, Electronic Solution.
Tapi hal ini tidak berlangsung lama. Satu persatu tenant utama itu menutup outletnya di Setos lantaran sepi pengunjung. Meskipun konon keduanya tidak mengeluarkan uang sewa untuk kehadirannya di Setos.
Setos dijuluki Mall kuburan lantaran sepinya pengunjung. Apakah hal ini lantaran kalah bersaing dengan Carrefour Cikokol yang terletak tidak jauh dari sana? Tidak lama setelah Carrefour Cikokol hadir, Alfa Cikokol yang merupakan cabang terbesar Alfa pun tutup, dan akhirnya Alfa nya sendiri malah dibeli Carrefour.
Faktor lain, adalah tingkat persaingan yang semakin tinggi di sekitar kawasan itu. Jika kita perhatikan mulai dari pintu tol Tangerang hingga Serpong, sudah berdiri beberapa tempat belanja. Mulai dari WTC Matahari dengan Hypermart, Summarecon Mal Serpong dengan Fresh Marketnya, Makro, Giant, dst.
Selain itu, konon sepinya pengunjung Setos lantaran tidak ada Angkot yang ngetem di sekitar kawasan itu. Sebelumnya daerah yang dikenal sebagai tempat ngetemnya Angkot nyari penumpang. Dan situasi itu sekarang sudah tidak ada lagi.
Perlu usaha keras untuk menarik pengunjung ke Setos. Persaingan yang keras diantara pusat perbelanjaan yang lain, daya beli masyarakat yang masih diragukan terutama di daerah Tangerang dan sekitarnya, dan kombinasi tenant di Mall itu sendiri.
Dengan dibukanya kembali Giant di Setos, sebenarnya pertanda bahwa pengelola Setos pun berbuat sesuatu, meskipun hasilnya masih dapat dipertanyakan di kemudian hari. Kita tunggu saja.
Solving Problem
• Time Context
Permasalahan yang dialami oleh Giant hypermarket di Setos terjadi pada tanggal 8 Februari 2008

• View Point
Dairy Farm, yang merupakan induk perusahaan dari Giant dan Giant itu sendiri adalah pihak yang bertangung jawab atas kejadian tersebut. Karena Dairy Farm tidak dapat berkoordinasi dengan pihak manajemen Giant, dan Giant Setos yang pada dasarnya memiliki manajemen yang kurang baik.

• Central Problem
Permasalahan utama yang dihadapi Giant Setos pada saat itu adalah:
1. Sepinya pengunjung yang datang ke mal tersebut. Faktor penting yang membuat suatu mal ramai adalah dukungan dari fasilitas transport umum yang berada atau melewati daerah tersebut, contoh Pluit Village (dulunya Mega Mall) dilewati oleh angkot B06, U10, dan Metromini 02, serta bajaj-bajaj dan taksi yang tersedia di Pluit Village. Namun hal yang terjadi di mal Setos, memang ada kendaraan umum yang lewat tapi mereka tidak mau ngetem lagi disana.
2. Faktor selanjutnya disebabkan karena kurangnya dukungan dari pihak pengelola Setos untuk mempromosikan isi mal tersebut kepada masyarakat di sekitar kawasan Serpong. Kami ambil contoh lagi Pluit Village. Untuk menjadi Pluit Village, Mega Mall membutuhkan renovasi yang sangat lama, yaitu memakan waktu sekitar 2 tahun, dan itupun belum sepenuhnya renovasi tersebut selesai. Pada saat yang bersamaan, dibukalah Mal Pluit Junction dan Emporium yang jaraknya sangat berdekatan dari Pluit Village, yaitu hanya sekitar 500m. Waktu itu banyak masyarakat yang meyakini bahwa Pluit Village tidak akan mampu menyaingi mal tersebut, namun tidak demikian kenyataannya.
3. Kurang strategisnya letak Giant Setos dibandingkan tempat-tempat pembelanjaan lain di kawasan tersebut seperti Carrefour Cikokol dan Sumarecon Mal Serpong.
4. Kurang gencarnya promo-promo yang diadakan oleh pihak Giant di Setos dibandingkan Carrefour Cikokol.

• Objective
o Must
Tujuan yang harus dicapai oleh Giant Hypermarket Setos dalam waktu singkat adalah meningkatkan jumlah pengunjung yang datang ke mal tersebut agar mencapai target yang mereka buat yaitu sekitar 80% dari 100% (8000 orang/ bulan selama 1 tahun pertama)

o Want
Dengan tercapainya tujuan utama tersebut, diharapkan bahwa perusahaan tersebut dapat meningkatkan profitnya sebesar 20% dari total BEP (Break Even Point) di tahun pertama.

• Area of Consideration
o Internal
Me-manage pembukuan antara pemasukan, pengeluaran, dan profit dengan seefektif mungkin, sehingga dapat menekan harga jual produk sampai seekonomis mungkin. Selain itu juga menggunakan pegawai dalam jumlah yang secukupnya sehingga tidak terjadi pemborosan uang untuk hal-hal yang sifatnya berlebihan.

o External
1. Menyediakan halte-halte di sekitar mal Setos, dimana angkutan umum dapat ngetem atau menurunkan penumpang tanpa mengganggu kelancaran arus lalu lintas di daerah tersebut, sehingga lebih memudahkan orang-orang untuk dapat berbelanja di Giant yang terletak di Setos. Selain itu bisa juga didukung pihak pengelola mal dengan disediakannya shuttle bus menuju mal Setos, seperti yang dapat kita lihat pada pusat-pusat perbelanjaan seperti Citraland dan WTC Mangga Dua.
2. Meminta dukungan promosi dari pihak Mal Setos. Contohnya adalah dengan membuat handbook-handbook kecil yang berisi promosi-promosi yang sedang diadakan di took-toko dalam mal tersebut, dimana handbook tersebut terbit setiap bulannya dan dibagikan gratis ke rumah-rumah di sekitar kawasan Serpong. Selain itu pihak mal Sentos juga dapat meningkatkan jumlah pengunjung dengan mengadakan event-event khusus di mal tersebut, misalnya mengadakan ajang pencarian bakat atau lomba nyanyi, atau mungkin dengan mendatangkan artis.
3. Membagikan katalog produk Giant Setos ke rumah-rumah di kawasan Serpong, dengan begitu kami meyakini jumlah pengunjung di mal Setos tersebut akan meningkat, sehingga tidak perlu lagi ada pergantian usaha-usaha retail di mal Setos tersebut.

• Alternative Course of Action
Langkah alternative yang dapat diambil oleh pihak Giant adalah dengan
1. Memindahkan Giant Hypermarket ke lokasi lain yang lebih strategis dibandingkan di lokasi Mal Setos.
2. Menyediakan tempat penitipan dan bermain anak di Giant Setos sehingga para ibu dan ayah dapat berbelanja dengan tenang.
3. Menyediakan jasa delivery produk di kawasan Serpong dengan biaya charge yang murah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar