Rabu, 07 Oktober 2009

Tugas Merangkum 2 (Filsafat)

Abstrak :
Dua asumsi penting di dalam pandangan induktivis naif tentang observasi. Kritik dan penolakan terhadap kedua asumsi tersebut melalui beberapa cara dan alasan. Garis besar pandangan tentang observasi sebagai pandangan yang sangat umum dan populer pada zaman modern ini. Kesangsian lebih lanjut dan lebih besar terhadap kelayakan sikap induktivis tentang observasi. Pengalaman visual tidak ditentukan oleh gambar-gambar pada retina. Contoh hubungan pengalaman visual dengan ilmu. Keterangan observasi membutuhkan teori. Pandangan induktivis tentang ilmu. Hal-hal yang diperlukan untuk memantapkan validitas suatu keterangan observasi. Beberapa contoh untuk membantu mengerti watak ilmu yang sesungguhnya. Observasi dan experimen dibimbing oleh teori. Induktivisme tidak disalahkan secara konklusif. Esensial untuk mengerti bahwa ilmu adalah lembaga perkembangan historis pengetahuan dan suatu teori. Kritik terhadap filsafat ilmu induktivis.

Kata Kunci :

• Kaum induktivis naif
• Induktivis
• Observasi
• Reliabilitas
• Induktivisme
• Extensif
• Experimen
• Perspektif
• Esensial
• Persepsual
• Reserve
• Rival
• Interpretasi
• Kaum Empiris
• Konfrontasi
• Formulasi
• Teoretis
• Konsepsual
• Otonom
• Kaum induktivis extrem-positivis logical





Batang Tubuh :
Ada dua pandangan penting di dalam pandangan induktivis naif tentang observasi. Yang pertama adalah bahwa ilmu bertolak lewat observasi. Yang lainnya bahwa observasi menghasilkan landasan yang kukuh dan dari situ pengetahuan dapat ditarik. Kedua asumsi itu akan dikritik dalam berbagai macam cara dan ditolak dengan berbagai macam alasan.

1. Pandangan popular tentang observasi
Karena indera penglihatan merupakan indera yang paling extensif dipergunakan di dalam praktek ilmu, dan untuk mengambil gampangnya, maka pembicaraan berikut akan berhubungan dengan dunia penglihatan saja. Ada dua hal yang ditekankan dalam gambaran garis besar tentang observasi via indera-penglihatan, yang merupakan titik kunci bagi kaum induktvis. Pertama, seorang pengamat sedikit banyak dapat menangkap langsung beberapa sifat dari dunia luar selama sifat-sifat itu terekam oleh otaknya dengan tindakan melihat. Yang kedua, bahwa dua pengamat yang normal memandang objek atau adegan yang sama dari tempat yang sama akan “melihat” hal yang sama.

2. Pengalaman visual tidak ditentukan oleh gambar-gambar pada retina
Banyak bukti menunjukkan kenyataan justru bukan demikian, bahwa pengalaman para pengamat ketika memandang satu objek ditentukan semata-mata oleh informasi dalam bentuk sorotan sinar yang memasuki mata pengamat, juga tidak ditentukan semata-mata oleh gambar-gambar pada retina si pengamat. Dua pengamat memandang objek yang sama dari tempat yang sama dan dalam keadaan fisik yang sama tidak harus memiliki pengalaman visual yang sama, walaupun gambar-gambar yang diterima retina pada hakekatnya sama. Contoh, dalam suatu experimen terkenal kepada para subjek diperlihatkan kartu-kartu untuk beberapa waktu, kemudian diminta mengidentifikasikannya. Bila dipergunakan suatu set kartu normal, maka para subjek dapat menyelesaikan tugas mereka dengan memuaskan. Tetapi bila dalam tumpukan kartu diselipkan kartu abnormal, misalnya As Sekop berwarna merah, maka hampir semua subjek mula-mula salah mengidentifikasikan kartu itu sebagai As Ret atau As Sekop normal. Kesan subjektif yang dialami para pengamat dipengaruhi oleh harapan-harapannya. Tetapi, ketika mereka menyadari, setelah sesaat kebingungan, atau setelah diberi tahu adanya kartu-kartu abnormal dalam tumpukan kartu, maka mereka segera dapat mengidentifikasikan tanpa kesulitan sedikitpun kartu normal maupun yang abnormal.

3. Keterangan observasi membutuhkan teori
Walaupun ada beberapa pengalaman unik pada semua pengamat dalam persepsi, tetap saja akan terdapat beberapa keberatan pokok mengenai asumsi induktivis tentang observasi. Dalam bagian ini, kita akan memusatkan perhatian kepada keterangan-keterangan observasi berdasarkan dan dibenarkan oleh pengalaman persepsual para pengamat. Menurut pandangan induktivis tentang ilmu, dasar kukuh diatas mana hokum-hukum dan teori-teori membangun ilmu, sebenarnya lebih merupakan keterangan observasi publik daripada pengalaman subjektif pengamat individual. Jelas, observasi yang pernah dilakukan oleh Darwin selama dalam pelayaran di atas kapal Beagle, misalnya, akan menjadi tidak layak untuk ilmu, apabila ia tetapmerupakan pengalaman pribadi Darwin saja. Ia menjadi relevan untuk ilmu hanya bila ia diformulasikan dan dikomunikasikan sebagai keterangan observasi yang dapat dimanfaatkan dan dikritik oleh para ilmuwan lainnya. Pandangan induktivis itu membutuhkan penarikan keterangan universal dari keterangan tunggal lewat induksi. Penalaran induktif maupun deduktif melibatkan relasi-relasi antara berbagai perangkat keterangan, dan bukan antara keterangan dengan pengalaman persepsual.
Kita boleh berasumsi bahwa bermacam-macam pengalaman persepsual dapat secara langsung diperoleh seorang pengamat, tetapi keterangan observasi sudah tentu tidak demikian. Yang tersebut belakangan ini merupakan milik publik, diformulasi dalam bahasa publik, melibatkan teori-teori yang sangat umum dalam berbagai tingkat dan menggunakan argumentasi yang bisa mengelabui. Sekali perhatian dipusatkan pada keterangan observasi yang membentuk dasar kukuh bagi ilmu, maka dapat dilihat bahwa berlawanan dengan klaim induktivis, suatu teori mesti mendahului keterangan observasi, keterangan observasi itu mungkin sama salahnya dengan teori dalam pra-anggapan yang mendahuluinya.
Keterangan observasi harus dibuat dalam bahasa suatu teori, bagaimanapun samarnya. Suatu misal lagi, seorang yang sudah bangun pagi-pagi dan kepingin sekali minum kopi, mengeluh : “Kompor gas ini tidak mau nyala.” Dalam keluhannya ini terdapat asumsi bahwa di dunia ini ada zat-zat yang dapat digolongkan ke dalam konsep “gas”, dan beberapa diantaranya dapat membakar. Ia pun mengemukakan bahwa konsep “gas” itu tidak selalu dapat diperoleh. Ia tidak ada sebelum pertengahan abad ke 18, tatkala Joseph Black pertama kali membuat karbon dioxide. Sebelum itu, semua “gas” hanya dianggap kurang lebih contoh-contoh udara.
Karenanya keterangan observasi selalu dibuat dalam bahasa satu teori dan akan persis seperti keterangan teoretis atau konsepsual yang mereka manfaatkan.
Keterangan observasi bisa sama salahnya seperti teori-teori yang mendahuluinya, karena itu tidak dapat memberikan dasar yang sepenuhnya terjamin kukuh untuk membangun hukum-hukum dan teori-teori ilmiah diatasnya. Contoh , “ada sebatang kapur tulis disini”, yang diucapkan oleh seorang guru sambil menunjukkan sebuah benda berbentuk silinder putih yang dipegang di depan papan tulis. Bahkan keterangan observasi paling dasar seperti ini pun, telah melibatkan satu teori, dan ia bisa salah pula. Satu generalisasi tingkat rendah seperti “batangan-batangan putih yang terdapat di dalam ruangan kelas sekolah dekat papan tulis adalah kapur tulis” lahir dari satu asumsi. Dan sudah tentu generalisasi ini tidak mesti benar. Keterangan sang guru dalam contoh diatas pun bisa salah. Silinder putih yang dimaksud boleh jadi bukan kapur tulis, melainkan barang tiruan yang dibuat dengan cermat oleh seorang murid yang bermaksud main-main. Guru itu, atau orang lain, dapat mengambil langkah-langkah untuk menguji kebenaran keterangannya. Akan tetapi penting disadari, makin meyakinkan hasil pengujiannya makin banyak teori yang diperlukan, dan selanjutnya, kepastian absolut tidak pernah dicapai. Setiap tingkat dalam rangkaian usaha untuk mengkonsolidasi validitas keterangan observasi: “Ini adalah sebatang kapur tulis”, ternyata melibatkan kebutuhan tidak hanya pada keterangan-keterangan observasi lebih lanjut, tetapi juga pada generalisasi-generalisasi yang lebih teoretis. Dengan demikian jelaslah bahwa memantapkan validitas suatu keterangan observasi, memerlukan pertolongan teori, dan makin mantap validitasnya, makin extensif pula pengetahuan teori yang digunakan. Hal ini langsung berlawanan dengan apa yang kita harapkan semula dari pandangan induktivis, yakni bahwa untuk mengukuhkan kebenaran keterangan observasi kita perlukan keterangan observasi yang lebih terjamin, dan mungkin hukum-hukum bisa ditarik secara induktif dari situ, tetapi bukan dari teori.
Berikut ini beberapa contoh yang lebih membantu usaha kita untuk mengerti watak ilmu yang sesungguhnya.
Di zaman Copernicus (sebelum diketemukan teleskop), orang-orang dengan cermat mengamati besarnya Venus. Keterangan observasi: “Venus, dipandang dari bumi, nampak ukuran besarnya tidak mengalami perubahan sepanjang tahun” umumnya diterima baik oleh semua ahli astronomi, baik golongan Copernican maupun non-Copernican. Andreas Osiander, rekan sezaman Copernicus, menunjuk pada ramalan bahwa Venus seharusnya nampak berubah ukurannya, jadi sebagai “suatu hasil yang berlawanan dengan pengalaman dari tahun ke tahun”. Observasi ini diterima baik, walaupun mengalami kesulitan, sejak teori Copernicus dan juga beberapa rivalnya mengemukakan bahwa Venus seharusnya nampak berubah ukurannya sepanjang tahun. Tetapi observasi itu kini telah dianggap salah, karena mendasarkannya pada teori salah bahwa besarnya sumber cahaya yang kecil dapat diukur dengan akurat oleh mata telanjang. Teori modern dapat menerangkan mengapa mata telanjang yang menilai besarnya ukuran sumber cahaya kecil akan menyesatkan, dan mengapa observasi dengan teleskop, yang dapat menunjukkan dengan jelas berubah-ubahnya ukuran Venus sepanjang tahun, lebih dapat diterima. Contoh ini dengan jelas mengilustrasikan ketergantungan keterangan observasi pada teori, dan karenanya bisa salah.
Saya telah mengemukakan bahwa pandangan induktivis salah dalam dua hal. Ilmu tidak bertolak lewat keterangan-keterangan observasi, karena ada teori mendahului segala keterangan observasi, selain itu keterangan observasi tidak memberikan dasar yang kukuh untuk membangun pengetahuan ilmiah, makanya ia bisa salah. Akan tetapi, ini tidak berarti bahwa keterangan observasi tidak berperanan dalam ilmu. Saya tidak menyatakan bahwa semua keterangan observasi harus dibuang karena bisa salah. Saya lebih suka mengemukakan bahwa peranan keterangan observasi dalam ilmu menurut pandangan induktivis itu tidak seksama, tidak correct.

4. Observasi dan experimen dibimbing oleh teori
Contoh, katakanlah saya bersemangat hendak memberikan sumbangan kepada psikologi atau anatomi manusia, dan katakanlah saya mengetahui bahwa sedikit sekali penelitian dilakukan mengenai beratnya daun telinga. Apabila, di atas dasar ini, saya lebih dulu melakukan observasi yang sangat cermat terhadap beratnya daun telinga manusia dengan variasi yang sangat luas, merekam dan mengadakan kategorisasi observasi-observasi yang sangat banyak itu, saya kira jelas bahwa saya tidak akan dapat dengan cara demikian memberikan suatu sumbangan yang berarti kepada ilmu. Saya malah membuang-buang banyak waktu dan tenaga dengan sia-sia, kecuali jika sebelumnya ada teori yang mengatakan tentang pentingnya berat daun telinga atau ada suatu teori yang menghubungkanukuran daun telinga dengan terjadinya kanker.
Contoh diatas menggambarkan satu segi penting yang menyatakan bahwa di dalam ilmu, teori mendahului observasi. Observasi dan percobaan diadakan dengan maksud untuk menguji atau mengungkap sesuatu teori, dan hanya observasi yang relevan dengan tugas penelitian itu harus direkam. Namun, selama teori-teori yang membangun pengetahuan ilmiah bisa salah dan tidak lengkap, maka bimbingan yang diberikan oleh teori - agar observasi menjadi relevan dengan fenomena yang diselidiki - mungkin bisa menyesatkan dan mengakibatkan pengabaian beberapa faktor yang penting. Teori-teori tidak lengkap dan mungkin bisa salah yang membangun pengetahuan ilmiah dapat memberikan bimbingan salah pula kepada pengamat. Tetapi problema ini hendaknya ditangani dengan mengembangkan teori-teori kita lebih maju, dan bukan dengan merekam suatu daftar panjang yang tiada habisnya mengenai observasi-observasi tanpa tujuan.

5. Induktivisme tidak disalahkan secara konklusif
Pemisahan cara penemuan dan cara pembenaran, memungkinkan kaum induktivis menghindari kritik yang diarahkan pada klaim mereka bahwa ilmu bertolak lewat observasi. Akan tetapi, legitimasi pemisahan dua cara itu harus dipertanyakan. Hal ini saya harapkan menjadi makin jelas selagi buku ini melangkah makin jauh, bahwa esensial untuk mengerti bahwa ilmu adalah lembaga perkembangan historis pengetahuan dan suatu teori hanya dapat dinilai berharga apabila perhatian secukupnya diberikan pada konteks sejarahnya. Penilaian teori erat hubungannya dengan keadaan ketika teori itu pertama kali muncul.
Kaum induktivis ingin membuat pembedaan sangat tajam antara observasi langsung, yang mereka harapkan akan membentuk dasar yang kukuh untuk pengetahuan ilmiah, dan teori-teori yang akan dibenarkan dengan sejumlah dukungan induktif yang diterimanya dari dasar observasi yang terjamin. Kaum induktivis extrem-positivis logikal berlaku demikian jauh sampai mengemukakan bahwa teori hanya mempunyai arti selama ia dapat diverifikasi dengan observasi langsung. Sikap demikian itu tersangkal oleh kenyataan bahwa pembedaan tajam antara observasi dan teori tidak dapat dipertahankan, karena observasi atau lebih tepat keterangan yang dihasilkan dari observasi, telah lebih dulu kemasukan teori.
Persoalan induksi tidak dapat dipandang sebagai kesalahan yang pasti, karena sebagaimana telah saya katakan sebelumnya, kebanyakan filsafat ilmu lainnya pun menderita kesulitan-kesulitan serupa. Saya hanya menunjukkan suatu cara dimana kritik yang dipusatkan pada ketergantungan observasi pada teori dalam batas-batas tertentu dapat dihindari oleh kaum induktivis, dan saya yakin bahwa mereka masih saja dapat memikirkan pembelaan lain yang cerdik. Alasan saya utama mengapa induktivisme harus ditinggalkan ialah bahwa dibandingkan dengan pendekatan rivalnya yang lebih modern, induktivisme makin gagal memberikan keterangan yang lebih baru dan yang menarik tentang watak ilmu, suatu kenyataan yang telah mendorong Imre Lakatos untuk menyebut program itu sebagai program yang membawa kemunduran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar